Perawat Indonesia


Tat Twam Asi

Metode dan Media Pendidikan Kesehatan untuk Kelompok Kecil

MAKALAH

ILMU KEPERAWATAN DASAR 4

“Metode dan Media Pendidikan Kesehatan untuk Kelompok Kecil”

 

I. PENGKAJIAN

  Metode Pendidikan Kesehatan untuk Kelompok kecil:

Jumlah peserta maksimal 10 orang, pelaksanaan kegiatan pendidikan kesehatan pada kelompok            kecil ini dapat menggunakan metoda diskusi, tanya jawab, bermain peran dan demonstrasi.

             Langkah-langkah :

a. Perkenalan dan orientasi

      1) Salam

  Pemimpin diskusi memperkenalkan diri diikuti oleh semua peserta  diskusi

     2) Kontrak

  (a) Topik : Menjelaskan bahwa pada diskusi semua peserta akan menyampaikan masalah yang           dihadapi dalam merawat diri/pasien

Kemudian akan didiskusikan alternatif penyelesaian masalahnya

  (b) Waktu : Menjelaskan lama diskusi lebih kurang 30 menit

b. Pelaksanaan pendidikan kesehatan

      1) Pemimpin diskusi menanyakan masalah yang dihadapi oleh individu atau keluarga dalam merawat      pasien, terutama yang terkait dengan topik ceramah.

      2) Pemimpin menanyakan pengalaman peserta lain dalam menghadapi masalah yang sama

      3) Pemimpin menyimpulkan cara mengatasi masalah yang didiskusikan. dapat disertai dengan                        bermain peran atau demonstrasi.

  c. Terminasi

    1) Diskusikan perasaan dan pendapat peserta terhadap ceramah dan diskusi

   2) Menganjurkan peserta menggunakan informasi yang didapat dalam merawat anggota keluarga yang memiliki masalah yang sama

  3) Menganjurkan peserta merujuk pasien yang ditemukan memiliki masalah yang sama kepada

  4) Kontrak untuk pertemuan berikut : Topik, waktu dan tempat.

 

 Tim Pelaksana Pendidikan Kesehatan

  Tim dalam pelaksanan pendidikan kesehatan jiwa di rumah sakit jiwa pada kelompok besar adalah:

  a. Perawat

  Dalam diskusi dapat dilibatkan :

a. Staf KJM

b. Dokter

  Pemberi ceramah dan pemimpin diskusi adalah perawat.

  Metode pendidikan kesehatan untuk kelompok kecil, antara lain: diskusi kelompok, curah pendapat,  bola salju, kelompok2 kecil, bermain peran (role play), simulasi, dsb. 

  a. Diskusi kelompok: dibuat sedemikian rupa sehingga saling berhadapan, pimpinan diskusi/penyuluh duduk diantara peserta agar tidak ada kesan lebih tinggi, tiap kelompok punya kebebasan mengeluarkan pendapat, pimpinan diskusi memberikan pancingan, mengarahkan, dan mengatur sehingga diskusi berjalan hidup dan tak ada dominasi dari salah satu peserta.

Gambar 1. Metode diskusi kelompok

b. Curah pendapat (Brain Storming): merupakan modifikasi diskusi kelompok dimulai dengan memberikan satu masalah, kemudian peserta memberikan jawaban/tanggapan, tanggapan/jawaban tersebut ditampung  dan ditulis dalam flipchart/papan tulis, sebelum semuanya mencurahkan pendapat tidak boleh ada komentar dari siapa pun, baru setelah semuanya mengemukaan pendapat, tiap anggota mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.


Gambar 2. Curah Pendapat

c. Bola salju (Snow Balling): tiap orang dibagi menjadi pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang). Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.


Gambar 3. Bola salju

d. Kelompok kecil-kecil (Buzz group): kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil,  kemudian dilontarkan suatu permasalahan sama/tidak sama dengan kelompok lain, dan masing- masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya.

Langkah-langkah

  1) Masalah telah ditentukan oleh pendidik dan peserta didik

  2) Pendidik menunjuk beberapa murid untuk membuat kelompok kecil

  3) Pendidik membagikan bagian-bagian masalah yang harus didiskusikan

4) kelompok mulai berdiskusi

  5) setelah itu setiap kelompok kecil bersatu membentuk kelompok besar

  6) setiap kelompok kecil melaporkan hasil diskusi secara bergantian di dalam kelompok besar

  7) pendidik mencatat pokok-pokok pikiran yang telah disampaikan

  8) pendidik menugaskan murid untuk merangkum hasil diskusi

  9) evaluasi


Gambar 4. Buzz Group

e. Memainkan peranan (Role Play) ; beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan tertentu untuk memainkan peranan tertentu, misalnya sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau bidan, dll, sedangkan anggota lainnya sebagai pasien/anggota masyarakat. Mereka memperagakan bagaimana interaksi/komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.


Gambar 5. Role Play

f. Permainan simulasi (Simulation Game) ; merupakan gambaran role play dan diskusi kelompok. Pesan- pesan disajikan dalam bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), dan papan main. Beberapa orang menjadi pemain, dan sebagian lagi berperan sebagai nara sumber.

  Media Pendidikan Kesehatan untuk Kelompok Kecil

Media pendidikan adalah alat (saluran) yang digunakan untuk penyampaian pesan. Manusia  menggunakan indra untuk berinteraksi dengan lingkungannya sehingga untuk mempengaruhi interaksi  tersebut digunakanlah berbagai media. Semakin banyak indra yang digunakan untuk menerima suatu        pesan maka akan semakin mudah pesan itu diterima/dipahami.

Elgar Dale, membagi media dalam 11 macam sesuai dengan tingkatan intensitasnya masing-masing.


Dari kerucut tersebut dapat dilihat bahwa lapisan paling bawah adalah benda asli dan yang  paling atas adalah kata-kata. Hal ini berarti dalamproses pendidikan, benda asli memiliki intensitas yang  paling kuat/besar untuk mempersepsikan pesan yang disampaikan.

Jenis media yang sering digunakan:

a. Media cetak: booklet, leaftlet, flyer (selebaran), flip chart (lembar balik), rubrik, poster, foto, spanduk,      umbul- umbul.

b. Media elektronik: TV, radio, video, slide, film strip, dll

c. Media papan (billboard): poster, pamplet, baleho, dll

d. Media peraga: alat tiruan seperti pantom, boneka, dami, dan instrumen lainnya. Atau benda asli.

Analisis Perilaku Kesehatan

Pengkajian

Sebelum pendidikan kesehatan diberikan, lebih dulu dilakukan pengkajian/analisis terhadap kebutuhan pendidikan dengan mendiagnosis penyebab masalah kesehatan yang terjadi. Hal ini dilakukan dengan melihat faktor2 yang mempengaruhi perilaku kesehatan.

Lawrence Green (1980), perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor:

  1. faktor pendukung (predisposing factors), mencakup:

pengetahuan, sikap, tradisi, kepercayaan/keyakinan, sistem nilai, pendidikan, sosial ekonomi, dsb.

2. faktor pemungkin(enambling factors), mencakup:

fasilitas kesehatan, mis: spal, air bersih, pembuangan sampah, mck, makanan bergizi, dsb. Termasuk juga tempat pelayanan kesehatan seperti RS, poliklinik, puskesmas, rs, posyandu, polindes, bides, dokter, perawat dsb.

3. faktor penguat (reinforcing factors), mencakup:

sikap dan perilaku: toma, toga, petugas kes. Kebijakan/peraturan/UU, LSM.

    Informasi tersebut dapat diperoleh melalui kegiatan :

  1. Observasi
  2. Wawancara
  3. Angket/quesioner
  4. Dokumentasi

 

Jenis informasi yang diperlukan dalam pengkajian antara lain:

 

  1. pentingnya masalah bagi individu, kelompok dan masyarakat yang dibantu
  2. masalah lain yang kita lihat
  3. masalah yang dilihat oleh petugas lain
  4. jumlah orang yang mempunyai masalah ini
  5. kebiasaan yang dapat menimbulkan masalah
  6. alasan yang ada bagi munculnya masalah  tersebut
  7. penyebab lain dari masalah tersebut.

 

Tujuan pengkajian

  1. Untuk mengetahui besar, parah dan bahayanya masalah yang dirasakan.
  2. Menentukan langkah tepat untuk mengatasi masalah.

Memahami masalah

  1. Mengapa muncul masalah
  2. Siapa yang akan memecahkan masalah dan siapa yang perlu dilibatkan
  3. Jenis bantuan yang akan diberikan

 

Prioritas masalah

Disusun berdasarkan hirarki kebutuhan maslow:


IDENTIFIKASI MASALAH

Mandi Malam VS Rematik

Pernyataan bahwa rematik atau nyeri sendi timbul karena mandi malam hari, cuaca dingin, ataupun AC sering terdengar di masyarakat. Padahal, itu hanyalah mitos. Sebenarnya, tidak ada hubungan antara rematik dengan seringnya mandi di malam hari. Faktanya, sejauh ini belum ada bukti yang menguatkan bahwa mandi malam akan menyebabkan penyakit reumatik. Pada prinsipnya mandi malam atau mandi air dingin tidak menyebabkan rematik. Pada penderita rematik, mandi air dingin memang bisa membuat otot kaku atau spasme. Kondisi tersebut biasanya membuat sendi tertekan sehingga menimbulkan rasa sakit.

Namun demikian, bila telah terkena rematik atau nyeri sendi  memang tidak dianjurkan mandi malam. Karena setiap kali tubuh terkena air dingin/suhu dingin, kapsul sendi akan mengkerut. Hal ini tentunya dapat menambah rasa nyeri pada sendi yang telah terserang rematik.

Beberapa faktor pemicu rematik atau nyeri sendi sebenarnya adalah obesitas, pertambahan usia, dan pola makan yang tidak sehat. Dengan bertambahnya usia, lapisan pelindung sendi akan semakin menipis dan minyak pelumas sendi akan semakin mengental. Akibatnya sendi pun menjadi kaku dan nyeri saat digerakkan. Selain itu, berat badan yang berlebih cenderung merubah metabolisme tubuh dan memberikan beban yang berlebih pada sendi yang dapat menyebabkan rematik. Tidak hanya itu, pola makan yang tidak sehat juga berhubungan dengan rematik. Makanan yang mengandung lemak hewani di dalam jumlah tinggi akan diubah tubuh menjadi zat ”eicosanoid”, suatu zat yang dapat menyebabkan radang pada persendian.

Informasi seputar Rematik

Rematik adalah penyakit yang menyerang persendian dan struktur di sekitarnya.  Rematik bisa menyerang bagian kepala sampai kaki. Rematik  biasa disebut juga dengan nama “arthritis”. Secara umum, rematik ditandai dengan sejumlah gejala, seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri di lutut, siku, pergelangan maupun di bagian sendi-sendi lain, gangguan di otot dan tendon.  gejala rematik memang cukup luas. Rematik terdiri dari 150-an jenis. Tetapi ada empat jenis rematik yang paling sering dijumpai di masyarakat kita yaitu osteoarthritis yang disebabkan oleh pengapuran, rematik luar sendi yang menyerang jaringan di luar tulang rawan, rematik peradangan, dan rematik yang disebabkan oleh pengeroposan.

Pengobatan Rematik

Obat-obatan yang berada di pasaran belum ada yang bisa menyembuhkan penyakit rematik. Obat-obat itu hanya mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut.

 II.    Pilihan Metode Pendidikan

Metode: Diskusi kelompok dan Sharing

Diskusi kelompok adalah percakapan yang direncanakan atau dipersiapkan diantara tiga orang atau lebih tentang topik tertentu, dan salah seorang diantaranya memimpin diskusi tersebut.

Penggunaan metode diskusi kelompok harus memenuhi ketentuan berikut:

  1. Peserta diberi kesempatan untuk saling mengemukakan pendapat.
  2. Problema dibuat menarik.
  3. Peserta dibantu mengemukakan pendapatnya.
  4. Problemanya perlu dikenal dan diolah.
  5. Ciptakan suasana informasi.
  6. Orang yang tidak suka bicara diberi kesempatan.

    3.     
    Keuntungan menggunakan metode ini antara lain:
  1. Memungkinkan saling mengemukakan pendapat.
  2. Merupakan pendekatan yang demokratis.
  3. Mendorong rasa kesatuan.
  4. Memperluas pandangan.
  5. Menghayati kepemimpinan bersama.
  6. Membantu mengembangkan kepemimpinan.
  7. Memperoleh pandangan dari orang yang tidak suka bicara.

    4.      Kekurangan menggunakan metode ini antara lain:
  1. Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
  2. Peserta memperoleh informasi yang terbatas.
  3. Diskusi mudah berlarut-larut.
  4. Membutuhkan pemimpin yang terampil.
  5. Mungkin didominasi orang-orang yang suka belajar.
  6. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.

 

III. Media Pendidikan yang Digunakan

  • Media cetak: Brosur
  1. Kekurangan:
    1. Mudah hilang
    2. 
    Cepat rusak
    3.
    Kurang menarik
  2. Kelebihan:
    1. 
    Ekonomis
    2. 
    Lebih praktis
  • Media elektronik : Laptop

1. Kekurangan:
1.
Kurang ekonomis
2.
Tidak praktis

2.Kelebihan:
1.
Lebih komunikatif
2.Fungsional

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 4 Pendidikan Lintas Bidang. PT. Imperial Bhakti Utama.

Nursalam & Efendy, Ferry. Pendidikan dalam Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi Kesehatan : Teori & Aplikasi. PT Rineka Cipta. Jakarta.

 

 



1. Setho Hadisuyatmana S.Kep. Ns

pada : 17 April 2012

"Good Job, hanya saja covernya perlu disingkirkan saja. . ."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :